Jumat, 10 Februari 2012

KARYA SASTRA (JAWA) DAN KARAKTER BANGSA


MENCERAP KARYA SASTRA
Oleh: Arif Hartarta, S. S.,M. Hum

hartarta.arif@gmail.com

Abstrak
Karya sastra memiliki beberapa jenis yaitu karya sasra tulis, karya sastra lisan, dan karya sastra sebagian lisan. Lahirnya sebuah karya sastra selalu dipengaruhi oleh keadaan, perubahan kondisi sosial budaya di mana karya sastra itu lahir. Karya sastra merupakan refleksi sastrawan terhadap fenomena sekitarnya. Memahami karya sastra selalu diperlukan aneka kebijakan disiplin. Karya sastra memiliki beberapa kawasan; (1) sastra untuk seni sastra, (2) sastra untuk masyarakat, (3) sastra untuk politik, (4) sastra untuk agama. Karya sastra bisa diklasifikasikan menjadi tiga: (1) klasik, (2) borjuis, dan (3) radikal. Karya sastra memiliki hubungan erat dengan dunia seni, tentunya seni sastra. Sastrawan atau kreator selalu mencoba menerjemahkan rentetan peristiwa.

Kata Kunci: sastra, budaya, kawi, kreator

1.      Pendahuluan
Karya sastra sudah diciptakan orang jauh sebelum orang memikirkan apa hakekat sastra dan apa nilai dan makna sastra. Sastra lisan yang belum mengenal sistem huruf dan nama pengarang, sebab sastranya merupakan milik masyarakat bersama, sastra itu tidak semata-mata bersifat penghidangan atau peniruan, melainkan juga merupakan tanggapan terhadap lingkungan, jaman, dan sastra sebelumnya (Harjana, 1981:11). Dapatlah kiranya dikatakan bahwa munculnya sastra yang bersifat tanggapan itulah yang menyebabkan macam-macam versi dari sebuah sastra lisan tertentu, meskipun kelemahan daya ingat manusia juga dapat menyebabkan berubah-ubahnya suatu versi sastra lisan. Perubahan versi itu dilakukan tentu saja dengan maksud agar dapat lebih sesuai dengan nafas dan tuntutan jaman yang terus berubah-ubah, sehingga dari bahan dan pangkal yang sama dapat tumbuh bermacam-macam syair atau cerita lisan karena perubahan lingkungan dan jaman.
Karya sastra puisi, geguritan menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koheren oleh berbagai unsur pembangunnya. Dilain pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penggagasan, gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Di luar pendekatan struktur, terdapat proses-proses atau rentetan peristiwa yang medorong kelahiran karya sastra maupun pengarangnya/kreator. Sebagai pemahaman dasar yaitu era klasik, sastra berarti kitab, atau buku ajaran yang berguna, namun dalam pengertian kontemporer, sastra merupakan simulacrum, representasi dari semua gejala, peristiwa jasmaniah dan atau lahiriah. Karya sastra tidak hanya menceritakan perihal kehidupan, tetapi juga merambah dunia setelah kematian (Mahabarata: Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa).

2. Anazir Pokok  Proses Kreatif/Penciptaan (Sang Kreator/Sastrawan)
2. 1 Bahasa
 Bahasa merupakan media komunikasi paling efektif. Tugas sastrawan adalah memukul bahasa agar menjadi hidup, maka tidak heran apabila di beberapa karya sastra tulis mengandung unsur dramaturgi. Penyampaian karya sastra, baik lisan maupun tulis menggunakan media bahasa selalu melalui proses seleksi atau pemilihan kata. Diksi dan gaya bahasa menjadi stimulan bagi para pembaca dalam rangka membangkitkan daya imaginasi. Hal ini berarti sastrawan harus benar-benar teliti dan tepat dalam menggunakan pilihan kata. Sastrawan mencoba menggunakan kekuatan kata sebagai senjata menembus alam imaginasi, alam emosi penikmat, pembaca atau masyarakat penikmat. Kekuatan kata akan menjadi stimulan daya resap atau kapiler yang diharapkan mampu ngrogoh/ndudut rasa para pembaca atau penikmat. Tidak disangkal lagi bahwa di dalam karya sastra selalu mengandung kata-kata, atau berbahasa sugestive. Kenyataan tersebut bisa kita lihat dari pengaruh karya sastra terhadap masyarakat penikmatnya. Contoh adalah karya sastra yang berujud mantra.
Karya sastra merupakan mimikri dari kehidupan nyata yang telah diolah oleh para sastrawan dengan bumbu-bumbu  bahasa. Tuhan menciptakan manusia, agar manusia hidup, Ia meniupkan ruh hidup. Begitu pula sastrawan, ia meniupkan ruh terhadap karya-karyanya. Selain kematian, bahasa (bahasa sakral) memiliki kekuatan yang benar-benar ditakuti oleh faham kapitalis (Anderson, 2001). Bahasa yang dibangun dengan komponen diksi, gaya bahasa, sugesti ternyata mampu menjadi bukit kekuatan. Tidak mengherankan apabila seorang politikus selalu mendalami kemampuan orasi dan retorik. Dengan bahasa dan pilihan kata yang tepat, apa yang disampaikan penutur kepada khalayak akan mampu membakar semangat, mentransfer tujuan ke petutur. Namun apabila ada yang menyalahgunakan kekuatan bahasa, orang tersebut telah membuat orang lain menjadi pecundang. Para pujangga tempo dulu (sebelum angkatan 45), harus memiliki kemampuan seperti; hawi sastra, hawi carita, mardi basa, ketiga julukan tersebut secara harfiah bisa diartikan sebagai seorang yang ahli mengolah sastra (keindahan bahasa), luas pengetahuannya (kaya akan ceritera), dan pandai memilih kata.

2.      2 Sosio Budaya
 Culturalisme adalah pendekatan yang berpandangan bahwa dengan menganalisis budaya suatu masyarakat, bentuk-bentuk tekstual dan praktik-praktik budaya yang terdokumentasi, memungkinkan membangun kembali tingkah laku terpola (patterned behavior) dan konstelasi gagasan yang dimiliki bersama oleh para lelaki dan perempuan yang menghasilkan dan mengkonsumsi teks dan praktik-praktik masyarakat itu. Pendekatan ini merupakan human agency yang menekankan pada produksi aktif kebudayaan dan bukan pada konsumsi pasifnya.
Karya sastra dan sastrawan akan lahir dari keadaan sosial budaya di mana ia berada. Seorang sastrawan yang hidup terkurung dalam hegemoni dinastik, tentu saja karya-karya yang dihasilkan selalu menunjukkan, menggambarkan kondisi kehidupan istana, ambilah contoh mpu Prapanca. Dalam setiap karyanya selalu dibungkus dengan konsep dewa raja. Lain halnya dengan musisi legendaris Iwan Fals. Ia hidup dalam resim politik yang absolut sehingga karya-karyanya selalu bersifat satirisme. Keadaan sosial budaya yang selalu berubah-ubah merupakan kesepakatan sementara saja, namun ada pula yang menganggap bahwa kebudayaan tinggi merupakan kesepakatan agung.
Fenomena sosial budaya menyuguhkan berbagai peristiwa atau dinamika kehidupan. Para kawi, sastrawan tidak berhenti pada gejala-gejala yang kelihatan itu, tetapi mencoba menerobos dan melihat apa yang tersembunyi di balik gejala-gejala tersebut. Pengalaman estetik yang didapat tidak hanya rasa ingin tahu, tetapi mengikutsertakan daya-daya lain dari dalam diri kita, seperti misalnya kemauan, daya penilaian, emosi, bahkan seluruh diri untuk menciptakan kristalisasi terhadap objek yang diperhatikan.
Para pencipta karya sastra atau karya seni auratik merupakan individu yang mempunyai sifat unik, berbakat, dan kreatif. Mereka masih menuangkan nilai-nilai ke-Agung-an, dan yang jelas mereka masih memiliki pengikut. Mungkin mereka memunafikkan diri dengan selera jaman. Paradigma pergeseran nilai atau perubahan kondisi sosial budaya selalu mempengaruhi selera massa dan berbengaruh pula pada hasil atau kelahiran karya sastra. Penyebaran sebuah karya sastra maupun karya seni, mulai dari seni primitif, pertengahan, dan kebangsawanan, penerimaannya besifat kolektif. Sebaliknya, dalam seni otonom dan auratik, penerimaan terindividuasi dan penikmat terserap dalam karya tersebut. Praktik-praktik karya sastra, karya seni kontemporer sesungguhnya lebih merupakan penolakan dari karya-karya seni kebudayaan tinggi sebelumnya. Yang jelas bahwa penerimaan, konsumsi, dan kelahiran sebuah produk budaya (karya) berlangsung dalam kondisi ”kacau”.
Kasus semacam sebenarnya telah diprediksi (walaupun masih dalam sekala kecil) oleh R.Ng Ranggawarsita seorang pujangga besar keraton Kasunanan Surakarta yang menulis konsep ’Jaman Edan’ dalam serat ”Kalatidha-nya yang prinsipnya bahwa apabila jaman itu datang (jaman edan) namun kita tetap bersikukuh untuk tidak mengikuti polanya alias tidak ikut ngedan niscaya kita akan kelaparan. Namun selalu ada harapan sebagai pelipur lara yang menyertainya, bahwa janganlah kuatir karena keberuntungan orang yang sedang lupa (gila, edan) masih lebih besar keberuntungan manusia yang selalu sadar dan waspada.
Seniman belakangan yang sudah menangkap gejala semacam adalah seorang dalang maestro asal Klaten dan kemudian berdomisili di Semarang, yaitu Ki Nartosabdho. Nartosabdho menunjukkan prediksi keadaan pergeseran kebudayaan dalam syair lagu ciptaanya yang berjudul ’Aja Dipleroki’. Dibawah ini syair lagu tersebut:

Mas mas mas aja dipleroki
Mas mas mas aja dipoyoki
Karepku njaluk diesemi
Tingkah lakumu kudu ngerti cara
Aja ditinggal kabudayan ketimuran
Mengko gek keri ing jaman
Mbok yo sing eling, eling bab apa?
Iku budaya
Pancene bener kandhamu.

Syair di atas menunjukkan proses diffusi kebudayaan, yaitu bergesernya nilai, cara, dan adat timur oleh budaya kapitalis yang sudah mendekati kondisi postmodern. Ki Nartosabdho telah memberi peringatan bahwa janganlah malu dengan budaya sendiri, perkembangan jaman sesungguhnya adalah hanya perkembangan teknologi dan sains semata walaupun pada akhirnya memang mempengaruhi pola kehidupan berbudaya manusia. Kedua peringatan di atas merupakan prinsip baku yang masih dipegang oleh para sastrawan, seniman klasik, dan para penghayat sampai jaman sekarang.

3.      Sastra dalam Berbagai Ruang
 Karya sastra merupakan kendaraan paling luwes untuk berbagai macam kepentingan. Apakah sastra itu mengabdikan diri kepada keindahan, kaidah, dan kepentingan sastra itu sendiri, atau untuk pengabdiannya kepada masyarakat plural, atau untuk kepentigan agama atau bahkan untuk kepentigan politik. Sastra mampu mencerap, dicerap ke pelbagai ruang, seperti berikut:
Sastra untuk seni sastra memiliki tujuan mencapai keindahan tertinggi. Nilai etik dan estetik sebisa mungkin adalah keindahan dan kaidah secara transenden maupun imanen. Isi karya sastra semacam biasanya melantukan keagungan alam semesta. Sifatnya netral, tidak diboncengi oleh kepentingan-kepentingan sebuah politik tertentu (budaya, agama, partai). Contoh karya sastra semacam adalah pocapan seorang dalang dalam menggambarkan keindahan alam yang sedang dilalui oleh seorang ksatria, atau pocapan yang menggambarkan, melukiskan keindahan pegunungan/pertapaan. Lain halnya dengan sastra yang diperuntukkan bagi masyarakat, karya sastra ini selalu memiliki standar etik masyarakat penghayatnya. Karya seperti ini biasanya menjadi sistem projektif yakni mengatur pola kehidupan sosial dan berbudaya masyarakatnya, juga sebagai cermin (kaca benggala) kehidupan masyarakatnya. Contoh karya sastra semacam ada di beberapa cerita rakyat, mantra, dan berbagai jenis sastra tulis; Ceritera rakyat ”Kutukan Bandung Bandawasa”, mantra bersih desa, cerbung ”Ayu Sri Rahayu” karya Yunani.
Sastra untuk agama selalu merujuk kepada kepentingan penyebarannya atau keagungan agama tersebut. Karya sastra ini berisi tentang cerita tokoh-tokoh agama beserta ajaran-ajaran yang disampaikan. Perlu diingat bahwa kitab suci tidak penulis golongkan sebagai karya sastra untuk menghindari kesalah fahaman persepsi. Contoh karya sastra seperti ini adalah: Novel ”Siddharta” karya Hermann Hesse, Serat Suluk Wujil, Serat Babaring Ngilmi Makrifat, Serat Panembah, dan masih banyak naskah yang menceritakan kisah para wali.
Lain halnya dengan sastra untuk politik. Karya sastra ini memang sengaja diiptakan untuk kepentingan golongan tertentu (elite politik). Sebagai contoh adalah mitologi Nyai Rara Kidul. Sebelum nama Panembahan Senapati naik daun, nama Nyai Roro Kidul sama sekali tidak di kenal oleh masyarakat, namun setelah Senapati menjadi penguasa baru mataram Islam, isu yang beredar luas bahwa Senopati bersekutu dengan kerajaan alam lain dengan jalan mengawini ratu pantai selatan itu.
Pemeran utama dalam ceritera ini adalah Panembahan Senapati (simbol Jawa), Nyai Rara Kidul (simbol pra-Islam), Sunan Kalijaga (simbol Islam). Senopati mengawini pemimpin makhluk halus untuk mengukuhkan legitimasi hierarki kekuasaanya sebagai raja Jawa baru, sedangkan menurut aturan Islam, hal tersebut adalah musrik. Namun pada kenyataanya, orang Jawa mengesahkan hal itu, dan Kalijaga’pun tidak mengutuk Senopati yang berstatus murid-nya atas peristiwa tersebut.
Relasi antar ketiganya adalah relasi budaya yang dinamakan relasi kooperatif. Senapati mengawini Nyai Rara Kidul (makhluk halus), namun ia juga seorang murid dari Sunan Kalijaga yaitu wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Apabila dilihat dari kacamata agama, tentu saja hal itu dianggap pelanggaran, namun pada kasus ini, hal tersebut adalah legal, tidak ada masalah, sah-sah saja (mungkin hanya dikhususkan bagi raja). Ketiga tokoh tersebut menjalin hubungan yang rekat, harmonis, sinkretis, tanpa terjadi konflik. Itulah salah satu fungsi mitos, yaitu menunjukkan pesan intelektual ”tanpa konflig”. Namun perlu diingat bahwa mitologi di atas tidak lepas dari pengaruh hegemoni Mataram Islam era Senopati. Mungkin sekali bahwa cerita itu sengaja dibuat untuk memperkuat legitimasi pemerintahan Senapati sebagai raja baru, yaitu transisi dari Pajang ke Mataram agar rakyat benar-benar berserah dan mempercayakan semua perlindungan atau bernaung ke Mataram.
Teks sastra dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis, yang pertama adalah klasik, borjuis, dan radikal. Teks klasik memiliki ciri pakem, artinya semua unsur intrinsik yang ada dalam teks ceritera tidak boleh dirubah (contoh: ceritera wayang). Borjuis memiliki ciri sebagai karya sastra pesanan, artinya cerita rekaan atau carangan untuk kepentigan tertentu atau mengikuti selera penikmatnya. Sedangkan teks radikal memiliki ciri berstruktur kontemporen, bebas, terlepas dari kaidah-kaidah etik – estetik konvensional.

4.      Mencerap Karya Sastra
 Sastrawan, karya sastra, masyarakat, dan ”alam”, dalam relasi-relasinya yang bersifat partikular dan universal; secara unik berada dalam hubungan yang tak berperantara satu sama lain. Lebih spesifik, tidak terdapat istilah ketiga di mana pemisahan antar keduanya itu diperantarai ketika unsur transendental itu lenyap, problem yang timbul dari persamaan tingkat bahkan menjadi lebih kentara. Dengan demikian apa yang menjadi universal dalam etika adalah individu itu sendiri. Bahwa partikular menjadi universal berarti meruak individualisme masyarakat itu sendiri.
Masalah representasi masyarakat pertama dan terutama merupakan persoalan simbolisasi masyarakat, sebagai universal atau sebagaimana dijelaskan di atas sebagai perpaduan pertikular-partikular. Pentingnya pembedaan antara bentuk itu, lebih lanjut merupakan pokok dalam memahami dan mengkontraskan fenomena klasik dan kontemporer. Akhirnya, kita pasti ingat bahwa persoalan yang dihadapi oleh representasi publik dan pribadi tertentu yang digambarkan sebagai penyatuan adalah setiap sistem referensi diri yang pada akhirnya adalah bagian yang mendukung keseluruhan.
Ruang kudus merupakan dimensi transenden bagi para kawi atau pujangga. Para kawi, pujangga menunaikan tugasnya menulis suatu karya sastra bukan semata-mata sebagai profesi, melainkan merupakan perjalanan, pengabdian religius (ibadah) contoh: serat Dewa Ruci, suluk makrifat Syekh Malaya, suluk Wujil, Sang Hyang Kamahayanikan. Mereka inilah yang selanjutnya disebut seorang ’yogi sastra’. Ruang profane sendiri memiliki pengertian konsumtif publik. Sastrawan, novelis, penyair menyajikan buah karyanya untuk masyarakat konsumen (publik), artinya mampu memenuhi selera massa. Dari berbagai karya yang dihasilkan oleh masing-masing zaman, semua dapat dicerap, difahami, dan diambil nilai-nilai adi luhung yang terdapat di dalamnya serta yang tetap relevan dengan zaman. Apapun informasi yang terkandung dalam karya sastra adalah pengetahuan yang layak diketahui dan diperhitungkan untuk pembinaan karakter bangsa sebagai tolok ukur perbuatan dan efek-efeknya.

 
Bibiliografi

Anderson, Benedict. 2001. Imagined Communities. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Andre Harjana. 1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Arif Hartarta. 2010. Mantra Pengasihan: Rahasia Asmara dalam Klenik Jawa. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Arif Hartarta, Bani Sudardi, Chai Jincheng. 2010. Pelacakan Jejak Migrasi Budaya Yunan China Selatan di dalam Tradisi Jawa”. Solo: BPSI.
Baldwin, James Mark. 2007. History of Psychology; a sketch and an interpretation. Yogyakarta: Prismasophie.
Dick Hartoko. 1979. Bianglala Sastra; Bunga Rampai Sastra Belanda Tentang Kehidupan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Edy Tri Sulistyo. H. 2005. Kaji Dini Pendidikan Seni. Surakarta: UNS Prees.
Mudji Sutrisno, SJ. 2009. Ranah-ranah Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Mudji Sutrisno, Hendar Putranto (ed). 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Striati, Dominic. 2004. Popular Cultur; pengantar menuju teori budaya. Yogyakarta: Bentang.
Turner, Bryan. 2008. Tetori-Teori Sosiologi: Modernitas-Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Zoetmulder. P.J. 1983. Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

CERPEN : Takhta Berdarah


CERPEN LAMBANG JIWA
TAHTA BERDARAH
Karya  : Arif  Hartarta *


Di atas singgasana kerajaan Brenggala Pura, Raja Giwang tengah gelisah menunggu kedatangan Pangeran Paripurna sang putra mahkota yang ditugaskan memimpin perang. Sementara itu, Pangeran Amonglena adik Raja Giwang, Patih Sarpa, dan Raden Dewantaka anak Patih Sarpa sangat berharap Pangeran Paripurna gugur di medan perang. Kira-kira tengah hari datanglah seorang prajurid melapor bahwa Pangeran Paripurna berhasil menumpas musuh negara dengan kemenangan gilang gemilang. Kemenangan Pangeran Paripurna disambut dengan kemeriahan pesta kenegaraan selama 3 hari 3 malam.
Dalam bilik gelap remang-remang sudut lain istana Brenggala Pura, Amonglena, Sarpa, dan Dewantaka menyusun siasat kudeta yang kedua. Keputusan rapat menugaskan Dewantaka membunuh Paripurna, apabila gagal, harus mengusahakan menggiring Paripurna ke taman Kepatihan untuk dipertemukan dengan Dewi Rumpaka putri bungsu Patih Sarpa. Kebetulan sekali bahwa Paripurna telah lama menjalin hubungan cinta dengan Rumpaka. Banyaknya tugas yang diemban Paripurna membuat mereka jarang bertemu. Bisa dibayangkan betapa tebalnya rindu mereka. Amonglena bertugas merayu prameswari Kamasmara, ibu tiri Paripurna yang telah sekian lama tidak merasakan belaian laki-laki, karena Raja Giwang telah lanjut usia. Tujuannya adalah menghasut Kamasmara agar bersedia membunuh Raja Giwang dengan cara yang rapi. Jika kedua rencana berjalan lancar, tak ayal lagi Amonglenalah pengganti tahta kerajaan Brenggala.
Lepas senjakala bermandikan air mata langit, kilatan petir menyambar sudut-sudut cakrawala, Amonglena mendatangi Kamasmara yang terlihat selalu bermurung durja. Basa-basi berujung rayuan Amonglena yang menjanjikan kepuasan lahir dan batin kepada Kamasmara yang tidak bisa diberikan oleh Raja Giwang suaminya. Laksana tembok kokoh terhantam amuk samudra, robohlah benteng kesetiaan sang dewi... Kobaran api nafsu membungkam semua suara, butalah mata, tulilah telinga. Api asmara membakar habis soko guru nalar Kamasmara. Sejenak kemudian...
Amonglena menyelesaikan adegan itu secara sepihak. Bisa dibayangkan betapa menderitanya Kamasmara dalam kungkungan api nafsunya yang kian berkobar-kobar. Amonglena berjanji sanggup meneruskan sampai kapanpun apabila Kamasmara sanggup menyingkirkan Raja Giwang yang nyata-nyata akan menghalangi hubungan cinta keduanya. Kamasmara menyanggupi. Amonglena menyarankan agar Kamasmara menuangkan racun yang sudah disediakan Amonglena ke dalam minuman Raja Giwang pada malam berikutnya yang telah disepakati.
Malam hari berikutnya, tatkala langit berselimut mega-mega hitam nan tebal, Dewantaka memerintahkan tiga pembunuh bayaran mengakhiri hidup Paripurna yang sedang merenung di teras loji Kepangeranan. Para pembunuh segera melanjarkan serangan, namun Paripurna lebih sigap dan berhasil menumpas dua orang. Seorang pembunuh berhasil ditangkap dan hendak diinterogasi siapa yang menyuruhnya. Tiba-tiba sebatang anak panah menancap di sisi belakang jantung si pembunuh. Dewantaka datang tergopoh-gopoh mengaku bahwa dirinyalah yang melepaskan anak panah dengan dalih menyelamatan Paripurna yang dikira terancam maut. Dewantaka merayu Paripurna agar singgah di taman kepatihan, sebab adiknya si Rumpaka sangat merindukan kedatangan Paripurna. Usaha pembunuhan berencana yang baru saja terjadi, Dewantaka menyatakan sanggup untuk mengurusnya. Rupa-rupanya paripurna termakan bujukan Dewantaka. Iapun melesat menuju taman Kepatihan menemui kekasihnya...
Di sudut lain di dalam istana, pada waktu yang tidak berselang lama dengan kepergian Paripurna, tiba-tiba saja terdengar rintih kesakitan dengan suara serak mencekik dari dalam istana. Raja Giwang terkapar terkulai tak bernyawa dengan tubuh pucat membiru. Hidung dan telinganya bercucuran darah matang, busa menyumpal memenuhi mulut. Kamasmara segera bermain watak, ia menjerit kencang merebut perhatian seisi istana. Malam itu juga istana penuh dengan para sentana kerajaan. Brenggala Pura bagaikan terkena badra wirawan, rembulan berselimut mendung hitam. Amonglena memerintahkan semua pejabat istana untuk menyiapkan segala kebutuhan pemakaman sang Raja.
Taman kepatihan menjadi saksi bisu asmaramuda Paripurna dan Rumpaka. Tiba-tiba datang patih Sarpa memberitahukan tentang kematian Sang Raja. Betapa hancur hati Paripurna mendengarnya, iapun segera bertolak ke istana bersama Sarpa, Rumpaka, dan diikuti beberapa pengawal dari kepatihan.
Berselang hari setelah pemakaman agung, Patih Sarpa membuka sidang istimewa di baleirung Brenggala Pura disaksikan Singgasana kosong nan bisu. Untuk mengisi tahta yang kosong, sidang darurat memutuskan mengangkat Pangeran Amonglena sebagai raja baru di kerajaan Brenggala Pura menggantikan Raja Giwang. Bisa ditebak dalam sidang putusan itu penuh bisik-bisik bak suara lebah mewacanakan keganjilan yang penuh intrik politik. Itu hanyalah angin lalu. Raja Amonglena berdiri, berjalan menuju singgasana dan duduk megah di atasnya seraya bertitah 1) mengangkat Dewi Kamasmara menjadi permaisurinya, 2) mengangkat Patih Sarpa sebagai patih seumur hidupnya sampai dengan keturunannya.
Paripurna tampil ke depan mohon perkenan untuk melantunkan kidung keselamatan bagi raja baru. Setelah mendapat perkenan dari raja, iapun memulai membaca kidung. Inti Kidung Paripurna berisi cerita tentang perselingkuhan seorang istri muda yang berujung pembunuhan dengan cara meracuni suaminya yang sah. Kini dalang pembunuhan itu menikmati semua yang ditinggalkan oleh suami naas itu. Betapa marah raja Amonglena mendengarnya, segera ia memerintah algojo kerajaan menyeret Paripurna keluar dari baleirung istana. Karena kejadian ini, pertemuan darurat dibubarkan.
Pagi hari berikutnya, Patih Sarpa meminta ijin Raja Amonglena untuk mengintrogasi Kamasmara yang dicurigai membocorkan pembunuhan berencana tersebut kepada Paripurna. Setelah mendapat ijin, Sarpa bertandang mendatangi kediaman Kamasmara. Terjadi dialog menegangkan antara Sarpa dan Kamasmara. Sarpa menghunus keris sembari mengancam Kamasmara agar tutup mulut, jika tidak, maka Kamasmara akan dibunuh. Kamasmara dalam ketakutannya bersumpah bahwa ia tidak pernah membocorkan dalang dibalik peristiwa pembunuhan itu, karena ia sendiri terlibat...
Kebetulan adalah suratan Sang Takdir dan kebenaran tidak pernah menutup mulut. Paripurna yang kebetulan datang ke tempat itu untuk meminta keterangan dari mantan ibu tirinya yaitu Dewi Kamasmara tentang kejadian yang menimpa ayahnya, melihat adegan yang terjadi di kediaman Kamasmara. Kebetulan lainnya Paripurna tidak melihat wajah pria yang mengacungkan senjata ke Kamasmara. Dengan gesit paripurna melemparkan belati dan tepat menancap di punggung Sarpa tembus sampai ke jantung. Seisi istana geger karena peristiwa itu. Raja Amonglena datang penuh amarah kepada Paripurna. Hari itu juga segera digelar sidang istimewa di baleirung. Paripurna membela diri bahwa yang dia lakukan semata-mata hanya menyelamatkan nyawa Kamasmara dari ancaman maut yang ternyata adalah ulah Patih Sarpa. Dewantaka yang telah mendengar laporan tentang kematian ayahnya segera mendatangi tempat persidangan Paripurna. Tanpa basa-basi Dewantaka menggelandang Paripurna. Duel maut terjadi antara dua kesatria pilih tanding. Karena terdesak, Dewantaka mencabut kerisnya yang mengkilap penuh bisa. Berkali-kali Paripurna terkena sayatan keris beracun Dewantaka, namun ia tetap tegak berdiri tak henti melancarkan serangan balik. Raja Amonglena segera berbisik memerintah Kamasmara supaya segera menyiapkan minuman beracun untuk diberikan ke Paripurna, sebab ia tahu bahwa Dewantaka pasti mati di tangan Paripurna. Tak lama kemudian terdengar teriakan berat di baleirung. Leher Dewantaka tertikam keris pusakanya yang berhasil direbut Paripurna. Darah mengucur deras ketika keris dicabut oleh Paripurna. Dewantaka roboh teriring suara gema bergemuruh menghantam dinding dan langit-langit baleirung.
Seisi baleirung hanya diam ternganga menyaksikan peristiwa itu. Paripurna berjalan sempoyongan menyandarkan diri di tiang baleirung. Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, Raja Amonglena dan Permaisuri Kamasmara yang sudah membawa minuman beracun mendatangi Paripurna yang tubuhnya berlumuran darah. Mereka memuji kehebatan Paripurna. Amonglena mengatakan bahwa Paripurna memang pantas menjadi Raja di Brenggala Pura, dan memang itu haknya, Amonglena hanyalah raja wakil, raja sementara. Amonglena memberikan minuman yang dibawa oleh Kamasmara kepada Paripurna untuk mengurangi letih dan dahaga. Paripurna terharu, sembari mengucapkan terimakasih. Ketika paripurna hendak meminumnya, tiba-tiba Dewi Kamasmara merebut minuman dalam cawan itu dan berkata lantang tentang apa yang sesunggunya terjadi di istana, bahwa sesungguhnya dalang dibalik kejadian keji ini adalah Amonglena, Sarpa, dan Dewantaka. Dirinyapun ikut terlibat. Kini semua tinggal penyesalan. Untuk membuktikan bahwa minuman itu benar-benar beracun, dan merupakan racun yang sama yang diminum oleh Raja Giwang, Kamasmara meminum minuman itu. Kamasmara jatuh tersungkur dengan kondisi tubuh sama seperti kematian Raja Giwang. Setelah mengetahui yang sebenarnya terjadi, dengan sisa-sisa tenaga paripurna melompat menikamkan keris yang dibawanya ke dada Amonglena. Dengan membabi buta ditikamnya jantung Amonglena berkali-kali. Berbekal sisa-sisa nafas dan tenaganya, Amonglena mencabut keris yang dibawa, dihunjamkan ke ulu hati Paripurna. Amonglena tewas tercabik-cabik.
Paripurana yang tubuhnya telah bersimbah darah dan digerogoti oleh bisa racun keris Dewantaka, ulu hatinyapun telah buntas oleh keris Amonglena pamannya, dengan sisa tenaga ia merangkak meraih singgasana kerajaan diiringi segenap yang ada di baleirung. Paripurna berhasil meraih singgasana dan duduk di atasnya. Seketika itu juga Pangeran muda Paripurna menghembuskan nafas terakhirnya. Raja paripurna duduk terkulai lemas tak bernyawa di atas kursi singgasana agung kerajaan Brenggala Pura. Semua yang ada di baleirung duduk tersungkur memberi penghormatan terakhir kepada rajanya...
Surem-surem diwangkara kingkin
Lir manguswa kang layon
Denya ilang memanise...
Wadananira layu kumel kucem
Rahnya maratani ing sariranipun

KIDUNG PARIPURNA
http://arifhartarta.blogspot.com

MACAPAT (PEMAHAMAN DASAR)

http://www.jawamantra.blogspot.com


SINAU MACAPAT :
SAMBUNG RAPETIPUN KALIYAN PAMBANGUNAN KAPRIBADEN BANGSA
dening Arif Hartarta, S.S., M.Hum.

A.     Purwaka
Dumugi samangke, tembung ‘macapat’ taksih asring dipuntegesaken sapenakipun piyambak. Wonten saperangan pamanggih ingkang negesi tembung macapat kanthi pangertosan ‘macane papat-papat’. Terangipun, cakepan ingkang dipunlagokaken kapedhot  pendhak sekawan wanda (suku kata). Pamanggih kalawau kula anggep salah kaprah, tegesipun, sanadyan salah nanging sampun kelajeng kaprah utawi limrah dipunginakaken lan dipuntularaken wonten ing pabrayan (masyarakat). Ing ngriki badhe kula grejah wonten pundi dunung lepating pamanggih ing nginggil. Kula pendhetaken tembang ‘gambuh’ ing salebeding serat Wedhatama:
Samengko ingsun tutur,
Sembah catur supaya lumuntur,
Dhingin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki.
Ing kono lamun tinemu,
Tandha nugrahaning manon.
Sumangga sesarengan sami katitipriksa cakepan ing nginggil menika. Tembung ‘samengko’ namung dumadi saking 3 wanda. Menawi kedah kawaos sekawan wanda tembungipun dados ‘samengkoing’, ingkang tembung kalawau mboten  wonten tegesipun, utawi tembung ingkang mboten mungel. Mekaten kalawau kathah panunggilanipun. Ing perangan salajengipun badhe kula babar menggah angger-anggering tembang lan nembang macapat. Nanging  saderengipun, keparenga kula sekedhik njlentrehaken pamanggih kula bab werdiningkang “macapat” kados ing ngandhap menika.

B.     Macapat Jaman Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (PB XII)
Lelandhesan saking pinten-pinten katerangan ingkang nate kula tampi, sekar macapat kagolong sekar alit, awit lahir ing urutan kantun piyambak (kaping sekawan/papat). Dene ingkang lahir langkung rumiyin kasebat sekar ageng utawi sekar kawi. Selajengipun wonten malih sinebat sekar tengahan/sekar madya. Menggah sebatan tumrab sekar ageng inggih punika maca salagu, maca ro lagu. Sebatan tumrab sekar tengahan katelah maca tri lagu. Dados mboten mokal menawi tembang ingkang mijil kaping catur menika sinebat “maca papat” utawi “macapat”.
Mboten ngemungaken pemanggih kados ing nginggil ingkang nedya kula andharaken, awit taksih wonten salah satunggaling bab ingkang kula raos wigatos sanget tumrabing pangertosan ing babagan macapat. Abad 19-an dumugi samangke, peneripun wonten ing Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, taksih saged dipunpanggihi naluri (tradisi) macapatan pendhak malem jumat ing pringgitan paningrat Keraton, pramila salajengipun macapat menika winastan macapat (cengkok/gagrag) pringgitan.
Lajeng wonten pundi sambungrapetipun? Keparenga kula ngudari tembung ‘macapat’ adhedhasar kasunyatan ingkang wonten ing jaman samangke. Menggahing kula, sinebat macapat awit panyekaripun wonten ing parepatan/parepat/pasamuan, inggih ing parepatan kempalan, parepatan kulawarga, utawi parepatan sawanci seba ing ngarsa nata. Cethanipun ‘maca ana parepat’.

C.      Tembang
Ingkang dipunwastani tembang inggih menika reriptan utawi dhapukaning basa mawi paugeran ingkang mligi utawi sampun gumathok, ingkang pamaosipun kedah dipunlagokaken sarana kagunan swanten.
Wonten 5 golonganing sekar Jawi (tradisional), inggih menika: (1) sekar gendhing, (2) sekar ageng/tembang kawi, (3) sekar tengahan/tembang dagelan, (4) sekar alit/macapat, lan (5) tembang dolanan. Tembang macapat ingkang kasebat ing angka 4 (sekawan/papat) kalawau pranyata sampun wonten utawi sampun kaginakaken wiwit jaman Majapahit, tamtunipun ugi sinawung ing basa Jawi tengahan. Serat sastra jaman Majapahit ingkang sinawung ing tembang macapat antawisipun: Sudamala, Kidung Subrata, Panji Anggraeni.
Wekdal semanten, ingkang kagolong sekar macapat namung: mijil, sinom, durma, asmaradana, kinanthi, dhandhanggula, maskumambang, pangkur, lan pocung. Ewadene gambuh, megatruh, balabag, wirangrong, lan jurudemung nalika semanten taksih kagolong sekar tengahan. Girisa sewaunipun kalebet sekar ageng. Nanging sedaya ingkang kula sebat, sakmenika sampun kagolong sekar macapat. Saben tembang macapat wonten pinten-pinten cengkok (gaya). Tuladhanipun sekar dhandhanggula wonten pinten-pinten gagrag, antawisipun: dhandhanggula maskentar, turu lare, lik suling, tlutur, buminatan, ngajab sih, pada sih, banjut, lsp.

D.  Wataking Tembang Macapat:
I.           Pocung: kendho, tanpa greget saut. Prayoge kangge cariyos ingkang saksekecanipun.
II.      Gambuh: sumanak, sumadulur. Prayogi kangge paring pitutur ingkang ngemu suraos radi sereng.
III.      Durma: sereng, napsu. Cocog kagem medharaken raos sereng, tantang-tinantang ing paprangan.
IV.          Pangkur: sereng, napsu. Jumbuh kegem ngandharaken carios perang.
V.          Mijil: prihatin. Cocog kagem medharaken raos sedhih, pitutur ingkang melas, carios gandrung.
VI.          Kinanthi: kebak sih, grapyak. Prayogi kagem pitutur raos tresna.
VII.        Sinom: canthas, ethes. Prayogi sanget kangge nelakaken raos gandrung, prenes.
VIII.  Dhandhanggula: ngresepaken, luwes. Mathuk kangge nggambaraken raos menapa kemawon.
IX.           Maskumambang: nelangsa, ngeres, kelara-lara.
X.            Asmaradana: sedhih prihatin. Mathuk kangge carios sedhih lan asmara.
XI.          Megatruh: trenyuh, memelas. Cocog kangge carios susah.
XII.        Lonthang: was-was utawi gojag-gajeg. Cocog menawi kangge raos lelucon.
XIII.      Girisa: wanti-wanti. Saged kangge mulang wuruk.
XIV.      Balabag: sembrana. Cocogipun kagem lelucon.
XV.        Wirangrong: ngemu prabawa ageng, ugi cocog kagem nggambaraken endahing alam.
XVI.      Jurudemung: kenes, mathuk kagem carios peprenesan.

E.  Wewatoning Tembang Macapat:
Sekar macapat mboten saged kadamel sakersanipun piyambak, awit sampun nggadahi paugeran-paugeran (guru) ingkang gumathok. Sekar macapat winengku ing guru wilangan, winengku ing guru lagu, winengku ing guru gatra. Lagu ugi winengku ing basa sastra, tegesipun sampun ngantos medhot tembung sakenggen-enggen. Menggah jlentrehipun kados ing ngandhap menika:
a)     Guru  wilangan: tegesipun wewaton wilangan utawi cacahipun wanda/kecap ing saben gatra (larik).
b)     Guru lagu: tegesipun wewaton lagu (dong-ding); wewaton dhawahipun swara ing pungkasaning gatra.
c)      Guru gatra: wewaton cacahipun gatra (larik) ing tembang saben sapada (bait).

E. 1 Guru Gatra, Guru wilangan, Guru Lagu Tembang Macapat:
I.               Pocung: 4 gatra: 12 u; 6 a; 8 i; 12 a.
II.             Gambuh (ping catur): 5 gatra: 7 u; 10 u; 12 i; 8 u: 8 o.
III.          Durma: 7 gatra: 12 a; 7 i; 6 a; 8 a; 5 a; 7 i.
IV.          Pangkur: 7 gatra: 8 a; 11 i; 8 a; 7 a; 12 u; 8 a; 8 i.
V.             Mijil: 6 gatra: 10 i; 6 o; 10 a; 10 i ;6 i; 6 u.
VI.          Kinanthi: 6 gatra: 8 u; 8 i; 8 a; 8 i; 8 a; 8 i.
VII.        Sinom: 9 gatra: 8 a; 8 i; 8 a; 8 i; 7 i; 8 u; 7 a; 8 i; 12 a.
VIII.     Dhandhanggula: 10 gatra: 10 i; 10 a; 8 e; 7 u; 9 i; 7 a; 6 u; 8 a; 12 i; 7 a.
IX.           Maskumambang: nelangsa, ngeres, kelara-lara: 4 gatra: 12 i; 6 a; 8 i; 8 a.
X.             Asmaradana: 7 gatra: 8 i; 8 a; 8 e; 8 a; 7 a; 8 u; 8 a.
XI.           Megatruh: 5 gatra: 12 a; 8 i; 8 u; 8 i; 8 o.
XII.        Lonthang: 3 gatra: 12 a; 12 a; 12 a.
XIII.      Girisa: 8 gatra: 8 a; 8 a; 8 a; 8 a; 8 a; 8 a; 8 a; 8 a.
XIV.      Balabag: 6 gatra: 12 a; 12 a; 12 a; 12 e; 12 a; 12 e.
XV.        Wirangrong: 6 gatra: 8 i; 8 o; 10 u; 6 i; 7 a; 8 a.
XVI.      Jurudemung: 7 gatra: 8 a; 8 u; 8 u; 8 a; 8 u; 8 a; 8 u.

E. 2  Pedhotan Ing Saben Gatra
Perlunipun pedhotan inggih menika kangge andheging napas nalika nglagokaken tembang. Pedhotan ingkang sae, pedhotan ingkang mapan wonten ing pungkasaning tembung, salajengipun dipunarani pedhotan kendho. Kosokwangsulipun, pedhotan ingkang mboten mapan ing pungkasaning tembung dipunarani pedhotan kenceng. Gatra ingkang mawi pedhotan kendho langkung sekeca dipunwaos, ugi langkung sekeca dipunsuraos isinipun dening ingkang maos menapadene ingkang mirengaken.

Tuladha pedhotan kendho ing sekar mijil:
Dedalane –  guna lawan sekti    : 4 wanda – 6 wanda
Kudu – andhap asor                   : 2 wanda – 4 wanda
Wani ngalah – luhur wekasane : 4 wanda – 6 wanda
Tumungkula – yen dipundukani            : 4 wandi – 6 wanda
Bapang –  densimpangi              : 2 wanda – 4 wanda
Ana catur – mungkur                 : 4 wanda – 2 wanda
Pedhotan kados tuladha ing nginggil mengku pikajeng supados tembung ing cekepan mboten ical tegesipun. Mangga dipuntaliti larik ingkang kaping kalih, umpami pedhotanipun 4 – 2 (kuduandhap – asor), tartamtu damel kidhungipun (bingung) sok sintena ingkang mirengaken, awit tembung ‘andhap asor’ menika kalebet tembung saroja.

E. 3  Laras lan Titi Laras
Laras: swanten ingkang sampun tumata kanthi gumathok. Ingkang minangka dhasar swanten sekar macapat kapendhetaken lan kacocogaken kaliyan larasing gangsa slendro lan pelog. Manut watesing swanten, laras pelog kaperang dados tigang pathet:
1.      Laras Pelog Lima
2.      Laras Pelog Nem
3.      Laras Pelog Barang
Dene menawi slendro:
1.      Laras Slendro Pathet Nem
2.      Laras Slendro Pathet Sanga
3.      Laras Slendro Pathet Manyura
Titilaras : tandha utawi tenger kangge mbentenaken andhap inggiling swantenanut larasing gangsa.
Titi Laras Slendro: 1 (ji) 2 (ro) 3 (lu) 5 (ma) 6 (nem) i (ji).
Utawi sinebat: barang, gulu, dhadha, lima, nem.
Titi Laras Pelog: 1 (ji) 2 (ro) 3 (lu) 4 (pat) 5 (ma) 6 (nem) 7(pi)
Utawi sinebat: panunggul, gulu/jangga, dhadha, pelog, lima, nem, barang.
Titi laras gangsa kaperang dados 3 golongan, inggih menika:
1.      Laras Cilik
2.      Laras Madya
3.      Laras Gedhe

E. 4  Macapat Ingkang Prayogi
Menawi badhe nyekar amrih prayogi, ngengetana pinten-pinten bab ing ngandhap menika:
1.      Mangertos watak-watakipun tembang (ingkang badhe kasekaraken)
2.      Mangertos guru lagu, guru wilangan, lan guru gatra
3.      Mangertos teges utawi suraosing tembung
4.      Mangertos pedhotan ingkang pener
5.      Mangertos titi laras
6.      Lesanipun kedah wijang
Makaten andharan sagebyar babagan macapat, salajengipun badhe kula andharaken sambung rapetipun sinau macapat lan pambangunan kapribaden bangsa.
 
       F.  Macapat lan Kapribaden Bangsa
Sampun cetha bilih sekar macapat menika kalebet salah satunggaling wujud kabudayan (kagunan) Jawi ingkang nggambaraken kapribaden wangsa Jawi. Sekar macapat namung wonten ing Indonesia kemawon, awit panci lahir wonten ing Nuswantara. Pramila sampun trep menawi macapat winastan kaca kapribaden bangsa. Kathahing panaliten Filologi nelakaken bilih serat-serta Jawi kuna ingkang ngginakaken tembang macapat pranyata isinipun mengku suraos lan piwucal ingkang adi lan edi luhung. Dados, bangsa Nuswantara menika sanes bangsa ingkang lumuh kados ingkang dipuntutuhaken dening saperangan antropolog sabrang. Bangsa Nuswantara kalebet wangsa ingkang remen ngudi kawruh (agal-lembat). Tuladhanipun wonten ing pethilan serat Wedhatama:
Ngelmu iku kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pangekese dur angkara
Cakepan sekar pocung ing nginggil ngemu piwucal luhur, ugi ngemot katerangan ingkang pinanggih nalar tumrab sinten kemawon ingkang nedheng lelumban ing pawiyatan.
Ing babagan panggesangan batin:
Lila lamun kelangan nora gegetun
Trima yen ketaman
Saserik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara
Cakepan ing nginggil paring pitedah, inggih menika sarana murih gesang tentrem kanthi lampah “tri legawa” kados ingkang kasebat ing tembang. Nalaripun, umpami sinau macapat saget ngembaka ing para mudha, tartamtu badhe wimbuh kawruhipun saking seserepan ingkang wonten ing salebeting tembang. Macapat dipundadosaken sarana (wadah) dening para pujangga ngesokaken kawruhipun supados saged lumuntur dumugi putra wayah.
***
nuwun, nuwun, maturnuwun

Kapustakan

Anjar Any. 1983. Menyingkap Serat Wedhatama. Semarang: Aneka Ilmu.

Diyono. 2001. Tuntunan Bawa. Sokoharjo: Cendrawasih

S. Padmosoekotjo. 1958. Ngengrengan Kasusastran Jawi Jilid I. Jogjakarta: Hien Hoo Sing.

S. Padmosoekotjo .1960. Ngengrengan Kasusastran Jawi Jilid II. Jogjakarta: Hien Hoo Sing.

Tentrem Warsena. 2006. Tuntunan Sekar Macapat. Sukoharjo: Cendrawasih.

W. Purwaka dkk. (tt). Sekar Rinonce : Kawruh Basa Jawa. Sukoharjo: Cendrawasih